20 Februari 2009

Character Building

Posted in Muslim Kaffah pada 12:59 am oleh Kartino

Beberapa waktu belakangan ini, ‘karakter’ di sebut-sebut sebagai pertimbangan dalam menseleksi eksekutif. Dia punya karakter”, demikian kata orang, dan tentunya konotasi ungkapan itu terarah positif. Wajar bila kita juga kemudian berespons dalam hati: “Apakah saya punya karakter?” Atau, ”Saya ingin ber-’karakter’, tapi tidak tahu cara mengembangkannya”.


Kita sudah punya karakter sejak lahir, karena karakter adalah kumpulan kualitas dan reaksi dalam diri individu. Permasalahannya adalah apakah ada ciri khas yang membuat karakter kita menonjol dan lebih berarti ketimbang orang lain? Bila ada, maka orang lain bisa dengan mudah menggambarkan karakter kita.

Orang yang berkarakter tidak sama dengan’orang baik’. Salah seorang dosen saya, misalnya, selalu ramah dan baik hati. Namun, cara berjalannya seperti layang-layang putus, bila berjabat tangan terasa jabatan yang tidak menggenggam, tidak ”berarti”. Setelah mengenal lebih lanjut, ternyata ibu dosen ini, di dalam pekerjaannya tidak tegas, tidak membuat perubahan, konformis tanpa sikap kritis sehingga di bawah pimpinannya, bagiannya sama sekali tidak berkembang.

Orang yang dikatakan berkarakter biasanya dikenali sebagi orang yang dikagumi dan direspek, bisa membedakan hal baik dan buruk dengan tegas, serta menjadikan lingkungannya lebih baik. Di Amerika, diperkenalkan sejak dini 6 pilar karakter, yaitu: bisa dipercaya, respek, tanggungjawab, bersikap fair, peduli dan menjadi warganegara yang baik. Pengenalan 6 pilar ini diikuti dengan seperangkat do’s dan don’ts, sehingga mudah digunakan bagi mereka yang ingin jadi orang berkarakter.
Apakah cukup sampai di sini? Tentu tidak. Membangun karakter membutuhkan “excersize”, tempaan, cobaan, tantangan tiada henti, yang memberi kesempatan bagi individu untuk memperkeras kepribadiannya.

I will be what I will to be

Choose your attitude”! Tantangan pertama kita adalah mendesain gambaran pribadi anda sendiri. Apakah ingin menjadi orang yang “low profile”, rendah hati, halus? Ataukah agresif, senang tantangan, dengan “exposure” tinggi. Kita perlu memiliki visi hidup yang jernih sehingga bisa mengarahkan pembentukan karakter.


Karakter Berasal dari “Habbit

Bila ingin berkarakter menonjol, kita perlu mempermudah orang lain untuk mengenali kekhasan kita. Kesamaan reaksi, gaya bicara dalam menghadapi situasi apapun, dari waktu ke waktu, perlu konsisten. Penting juga untuk
menjaga konsistensi antara apa yang kita katakan dan yang kita lakukan. Jalan pikiran, perasaan dan reaksi, perlu relevan satu sama lain. Seperti halnya kita tidak bisa tertawa terbahak bahak pada saat sedih.

Secara otomatis, konsistensi akan membentuk habit, yaitu
kebiasaan bereaksi pada tiap momen dalam hidup kita. Kenalan dekat saya mempunyai kebiasaan marah dalam setiap situasi yang dihadapinya. Bila anak jatuh, isteri sakit, terjerumus ke lubang, atau berhadapan dengan orang yang sulit, reaksinya satu, yaitu marah. Tidak pelak lagi, ia kemudian dikenal berkarakter pemarah. Habit yang terbentuk inilah yang menghasilkan ”kekuatan pribadi” dan memancarkan aura yang lebih kuat dibanding dengan habit yang tidak terbentuk karena tidak konsistennya reaksi individu.


Kompetensi membentuk karakter

Sering terjadi reaksi individu “pakewuh”, ragu, tidak cermat, karena ia tidak bisa, atau tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi situasi yang sulit.
Untuk itulah kita perlu berambisi untuk senantiasa memperkuat kompetensi kerja kita. Kompetensi perlu dikembangkan tidak sebatas pada ketrampilan dan pengetahuan saja, tapi juga sikap profesional dan prinsip. Galilah prinsip profesional dari orang-orang yang lebih berpengalaman, pertemuan profesi, buku, jurnal dan pelatihan. Seorang engineer pengeboran tidak akan begitu saja menyetujui instruksi atasan bila menghadapi situasi berbahaya, bila ia berpegang pada pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman profesionalnya. Walaupun ditekan oleh atasan, kompetensi, harga diri dan keputusan moralnya akan mendukung kepercayaan dirinya untuk mengambil sikap. Akhirnya pembentukan karakter dan kompetensi memang seperti lingkaran malaikat, semakin kompeten semakin mudah karakter ditonjolkan.


Tingkatkan kepekaan

Dalam pertemuan kelompok, bila individu ditanya:”Apa yang bisa anda kontribusikan ke tim untuk memperbaiki kinerja? Ia akan menggagap bila ia tidak peka tentang keberadaanya dalam situasi tersebut. ”Positioning” diri sendiri dalam situasi sosial memerlukan kejelasan dan kepekaan setiap saat, sehingga reaksi yang dibentuk selalu bisa disadari dan dikontrol. Hanya dengan kontrol kuat terhadap reaksi kita, maka kita bisa membentuk reaksi yang relevan.

Iklan

Kematangan

Posted in Muslim Kaffah pada 12:55 am oleh Kartino

Bagi kebanyakan orang, kematangan ditandai dengan kedewasaan yang diindikasikan dengan keberanian memasuki jenjang perkawinan, punya penghasilan sendiri serta lepas dari bimbingan orang tua. Namun, terutama dalam situasi menekan, kritis dan berisiko, kita sendiri kemudian dapat menyadari ataupun menyaksikan bahwa respons individu sering menunjukkan ketidakdewasaan. Seorang atasan bisa saja “mengecilkan” harga diri bawahannya sedemikian rupa, sehingga setiap individu yang menyaksikan kejadian tersebut bisa melihat bahwa sang atasan-lah yang tidak bijaksana. Seorang professional pun bisa tidak mengakui kesalahan yang dibuat, bahkan menuding orang lain yang perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. Bila dibahas lebih dalam lagi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa tidak bijaksananya individu disebabkan karena ia belum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan baik oleh lingkungan maupun oleh dirinya sendiri.

Kenyataan yang perlu kita simak bersama adalah bahwa kematangan tidak diturunkan, bukan bawaan sejak lahir, tetapi benar-benar dipelajari dan dilatih. Selain itu kematangan atau ketidakmatangan juga bisa terkikis dan menular. Bayangkan betapa menyedihkannya bila menyaksikan seorang yang sudah berangkat matang, kemudian merosot karena berada di lingkungan yang bobrok. Seorang ahli psikologi sosial bahkan menuliskan bahwa kematangan atau ketidakmatangan bisa merupakan ciri sekelompok orang, misalnya kelompok orang yang terlalu fanatik sehingga mempunyai keyakinan-keyakinan yang tidak obyektif lagi ataupun kelompok orang yang mempunyai norma yang jelas-jelas sudah tidak diterima masyarakat tetapi tetap membenarkannya. Bahkan bangsa tertentu juga bisa secara tidak matang menentukan arah politiknya, sehingga mengakibatkan penderitaan jutaan orang.

Pertajam Kesadaran

Seorang teman saya, membutuhkan waktu sangat panjang untuk meninggalkan pekerjaannya yang sangat nyaman namun tidak memancing tanggungjawab, bahkan memperlakukannya sebagai robot. Pekerjaannya demikian bertumpuk, sehingga selama lebih dari 5 tahun, ia tidak punya kesempatan menampilkan kemampuannya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Ketika ia memberanikan dirinya untuk meninggalkan pekerjaan tersebut, ia merasakan banyak kekurangan dirinya, baik dalam ketrampilan teknis dan juga hubungan interpersonal. ”Saya merasa dibutakan dalam lingkungan yang nyaman. Saya merasa ketinggalan” katanya. Untung saja teman kita ini masih mempunyai kemampuan untuk menyadari kekurangan dan mempunyai hasrat untuk mengembangkan diri.

Hal yang sering terjadi adalah bahwa kenyamanan lingkungan kerja dapat menyebabkan orang tidak berani keluar dari lingkungan tersebut, memelihara sikap kebal dan pengecutnya, bahkan mengembangkan imaturitasnya sampai tua. Tumpulnya kesadaran yang dipelihara sering menyebabkan ketidakmampuan individu untuk berdialog dengan hati nurani atau katahatinya, sehingga ia kehilangan kacamata obyektif dan positifnya dan memang ”dibutakan” dari relitas.

Perkuat Sifat Ksatria

Tindakan ”hara-kiri” (bunuh diri demi kehormatan) memang sudah tidak banyak terjadi di Jepang, negara di mana kebiasaan itu dilakukan oleh para Samurai di jamannya. Di jaman modern ini, mungkin budaya seperti itu tampil dalam bentuk budaya ”shame and guilt” alias malu, seperti.tindakan mengundurkan diri pejabat yang bertanggung jawab terhadap kejadian yang merugikan atau mencelakakan orang lain atau negara, sekedar untuk membuktikan sikap ksatrianya . Seorang ”guru” mengatakan”Maturity is humility. It is being big enough to say, ‘I was wrong’. And, when right, the mature person need not experience the satisfaction of saying, “I told you so.”

Berbeda dengan prestasi, individu memang tidak bisa ”pamer kematangan” dengan mudah, tetapi harus membuktikannya dengan tindakan yang teruji. Sikap obyektif, positif, bertanggungjawab dan matang emosi hanya bisa ditakar dalam hati. Bila seorang pimpinan ingin bersikap bijaksana, adil dan ”fair”, maka ia perlu menyelesaikan pergulatan dan konflik internalnya di dalam hati dan tidak menyatakan keras-keras,”Saya mengambil keputusan yang bijaksana, loh”. Kita, bangsa Indonesia, memang pintar-pintar, tinggal pe-er di depan mata adalah menjadi bangsa yang matang.

Personal Knowledge Management

Posted in Muslim Kaffah pada 12:51 am oleh Kartino

Individu, mau tidak mau perlu mempunyai taktik untuk mengelola informasi yang ia butuhkan untuk dijadikan dasar pengetahuan pribadinya. Banyaknya informasi perlu disikapi oleh individu, agar ia bisa mensistematisir dan mengembangkan ‘knowledge management’ pribadinya. Ada individu yang tidak sadar bahwa dia tidak tahu, namun mengembangkan suatu isu dengan pengetahuan yang tidak faktual dan belum terolah, alias: sok tahu. Sebaliknya ada individu yang tidak sadar bahwa ia sebenarnya tahu, tetapi tidak tahu bagaimana menggali pengetahuannya secara efektif. Personal knowledge management adalah strategi individual untuk menjinakkan informasi dan memanfaatkannya.

Sadari Apa yang Kita Tahu

Terkadang kita kagum saat bertemu seseorang yang bisa berbicara tentang segala hal dengan mengaitkan pengalaman pribadinya, pengetahuan, bacaan, pengamatan atau juga jurnal yang serius. Orang seperti ini terasa ’encer’ dan ’knowledgable’. Ia adalah contoh orang yang memiliki ”personal knowledge management” yang baik.

Terkadang individu mengabaikan dan tidak menghargai pengetahuan subyektif yang dimilikinya, yaitu wawasan, kesimpulan pribadi, hasil intuisi, pengalaman pribadi, ekspresi, nilai, maupun keyakinan pribadi. Pengetahuan ini seringkali disimpan dalam memori yang sulit dijangkau ketika memikirkan sesuatu. Yang kerap lebih ditonjolkan adalah pengetahuan obyektif, yaitu pengetahuan yang didapat secara formal, sebagai hasil belajar, analisa, mengikuti seminar, dan lainnya. Biasanya pengetahuan ini mudah diekspresikan karena dilengkapi dengan data penunjang, rumus, dan definisi.

Individu yang ingin memanfaatkan ’knowledge’-nya secara utuh, perlu mempunyai strategi mentransformasi potongan-potongan pengetahuan, baik obyektif maupun subyektif, sehingga memiliki ’database’ yang seimbang.

Cari, Pilih, Pilah, Beri Judul Pribadi

Informasi tidak secara ’gratis’ disuguhkan kepada anda. Untuk itu, individu dituntut untuk memiliki kemampuan mencari, mem-‘browse’, dan mengakses informasi yang dibutuhkan. Kita perlu mengaktifkan semua daya dan panca indera untuk memperoleh informasi. Pasang kuping, pasang mata, menajamkan rasa dan mengamati lingkungan sekitar, sama kadar pentingnya dengan melakukan browsing.

Selanjutnya, menyimpan semua informasi yang anda temukan tanpa terlebih dulu memilih dan memilahnya adalah tindakan yang salah, karena informasi hanya berguna bila bisa dicari kembali. Informasi yang didapat, juga tidak akan berguna bisa kita tidak melakukan ’exercise’ dengan mengajukan ‘tanya-jawab’ pada diri kita sendiri, mengenai what, when, where, why dan how, bahkan ”what if” dan ”so what”. Kesimpulan dan hasil pengolahan ini adalah milik pribadi anda, paten anda, dan untuk itu, berilah judul pribadi terhadap semua informasi yang ingin anda simpan. Dengan sistematika ini, cara fikir kita baru bisa dikatakan utuh.

Manusia hanya bisa mengingat dan mengolah 7 poin besar dalam satu momen tertentu dan kita perlu mengatur apa yang ingin kita ingat dan apa yang ingin kita lupakan. Apakah setiap poin itu diisi dengan informasi yang baru atau basi, yang lengkap atau tidak lengkap, mentah atau matang, akan bergantung pada cara kita mengoperasikan otak kita. Dengan demikian otak juga menyediakan data yang ”fresh”, matang dan yang memang kita butuhkan.

Berpikir teratur, kontinyu, optimal dan efektif adalah tantangan intelektual abad ke-21 ini

14 Januari 2009

Optimis Menjalani Tahun 1430 H Bersama Kesungguhan & Keistiqamahan.

Posted in Muslim Kaffah pada 6:00 am oleh Kartino

Dua Puluh Judul Tulisan Insya Allah Siap Diterbitkan, Silakan mengambil manfaat dari Tulisan yang ada…
Belajar Bijaksana,Belajar Profesional.Terus Belajar menjadi Mukmin Seutuhnya…Insya Allah

1.Membangun Pribadi Mukmin Profesional.
2.Belajar menyikapi hidup.
3.Belajar Menjadi Pribadi Mukmin Yang Bijaksana.
4.Mengembangkan Potensi Diri.
5.Belajar Islam,Belajar Takwa.
6.Amanah Da’wah,Amanah Yang Besar Untuk Ditunaikan dengan Baik dan Benar.
7.Merencanakan (Masa Depan)Kehidupan.
8.Mendidik Pribadi,Bekal Mendidik Keluarga.
9.Mengelola Kepribadian Seorang Mukmin.
10.Ukhuwah Islamiyah.
11.Menyempurnakan Syukur (Nikmat) Allah.
12.Menjaga Tumbuhnya Keistiqamahan.
13.Berhijrah Kepada Kemuliaan Allah dan Kebaikan.
14.Mengelola Amanah.
15.Team Building Dalam Menjalankan Amanah Da’wah.
16.Qalbun Salim , Hal Yang Besar Dalam Beramal Jam’i
17.Memaksimalkan Masa Lajang , Persiapan Untuk…..
18.Kuantitas Mengasah Meningkatnya Kualitas.
19.Pasca Nikah , Perjuangan Bersama Meniti Kehidupan Membangun Keberkahan
20.Belajar,Berilmu,Beramal,Berdakwah,Istiqamah.

Semoga Memberikan Kebaikan darinya.

16 September 2008

Referensi Tafsir Al-Quran

Posted in Muslim Kaffah pada 2:20 pm oleh Kartino

Nama Kitab : tafsir al-Tabary.

Pengarangnya : Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thobary (224 – 310 H)

Jumlah jilid : 12 jilid besar.

Keistemewaannya : Tafsir ini merupakan referensi bagi para mufassirin, terutama penafsiran binnaqli /birriwayah. mufassirin bilaqli, karena istimbat hukum, penjabaran berbagai pendapat dan mengupasnya secara detail disertai dengan analisa yang tajam. Ia merupakan tafsir tertua dan terbagus.

Metodologi Penulisannya: Penulis menafsirkan ayat al-Qur’an dengan jelas dan ringkas dengan menukil pendapat para sahabat dan tabi’in disertai sanadnya. Jikalau dalam ayat tersebut ada dua pendapat atau lebih, di sebutkan satu persatu dengan dalil dan riwayat dari sahabat maupun tabi’in yang mendukung dari tiap-tiap pendapat kemudian mentarjih (memilih) diantara pendapat tersebut yang lebih kuat dari segi dalilnya.

Beliau juga mengii’rob (menyebut harakat akhir), mengistimbat hukum jikalau ayat tersebut berkaitan dengan masalah hukum. Ad-Dawudy dalam bukunya “Thobaqah al-Mufassirin“ mengomentari metode ini dengan ungkapannya:“ Ibnu jarir telah menyempurnakan tafsirnya dengan menjabarkan tentang hukum-hukum, nasih wal mansuh, menerangkan mufrodat (kata-kata) sekaligus maknanya, menyebutkan perbedaaan ulama’ tafsir dalam masalah hukum dan tafsir kemudian memilih diantara pendapat yang terkuat, mengi’rob kata-kata, mengkonter pendapat orangorang sesat, menulis kisah ,berita dan kejadian hari kiamat dan lain-lainnya yang terkandung didalamnya penuh dengan hikmah dan keajaiban tak terkira kata demi kata, ayat demi ayat dari isti’adzah sampai abi jad (akhir ayat). Bahkan jikalau seorang ulama’ mengaku mengarang sepuluh kitab yang diambil dari tafsir ini, dan setiap kitab mengandung satu disiplin keilmuan dengan keajaiban yang mengagungkan akan diakuinya (karangan tersebut).

Read More……

Laman berikutnya