11 Juli 2009

Kenapa Seorang Wanita Mau Menikah????

Posted in Pernikahan & Keluarga Muslim pada 5:34 pm oleh Kartino

Berbagi sedikit tentang keluarga,dibawah ini pembahasan ditekankan pada kewajiban seorang pria, namun, sebenarnya dalam Islam pria dan wanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan proporsi tertentu sesuai fitrah kelaminnya. maka kalau pria harus menghormati akad nikah yang dia ucapkan, maka wanita juga harus menghormati keputusannya sendiri untuk menerima seorang laki2 yang sudah bersedia membuat mitsaq ghalizh dengannya.

Akad Nikah

Allah ta’ala berfirman,

“Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain,sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antaramereka hartayang banyak, makajanganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri? Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. ” (an-Nisa’: 20,21)

Tercantum dalam Tatsir ath-Thabari, …Dari Qatadah mengenai firman Allah, “Dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”, katanya, “Perjanjian yang kuat yang diambilkan Allah untuk para wanita, rujuk kembali dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik, dan hal itu (perjanjian yang kuat) terdapat di dalam akad kaum Mushmin pada waktu akad nikah, ‘Demi Allah, kamu harus benar-benar menahannya dengan cara yang makruf dan menceraikan (kalau menceraikan ) dengan cara yang baik.’…. Dan dari Mujahid, “Dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”, dia berkata, “Yaitu kalimat nikah untuk menghalalkan kemaluan mereka. ..”

Dan dari Mujahid dan Ikrimah, ”Dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”, mereka berkata, “Kamu mengambil mereka dengan amanat Allah, dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimah Allah…” Abu Ja’far (ath-Thabari) berkata, “Pendapat yang paling mendekati takwilnya itu ialah pendapat orang yang mengatakan, ‘Perjanjian yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah perjanjian yang diterima oleh wanita dari suaminya pada waktu akad nikah, yaitu janji untuk menahannya dengan cara yang makruf atau menceraikannya dengan cara yang baik, yang diikrarkan oleh si laki-laki, karena dengan begitu Allah Yang Mahamulia telah berwasiat kepada kaum laki-laki mengenai istri-istri mereka.”

Disebutkan dalam Tafsir al-Manar, “Perjanjian yang diambil wanitadari laki-laki ini harus sesuai dengan makna ifdha’ (bergaul/bercampur), sebagai fitrah yang sehat, yaitu yang diisyaratkan oleh ayat yang mulia, ‘Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.’

Maka ayat ini adalah salah satu dari ayat-ayat fitrah Ilahiyah, yang merupakan sesuatu yang paling kuat untuk disandari wanita dalam meninggalkan kedua orang tuanya, saudara-saudaranya, dan semua keluarganya, dan merasa rela menjalin hubungan dengan laki-laki asing (bukan keluarga) untuk berbagi suka dan duka. Maka di antara ayat-ayat (tanda -tanda kekuasaan) Allah pada manusia ini ialah maunya wanita berpisah dari keluarganya yang begitu besar perhatiannya kepadanya, untuk mengikat hubungan dengan orang lain, mcnjadi istri baginya dan si laki-laki menjadi suaminya, untuk saling memberi ketenangan dan ketenteraman, dan menjalin cinta dan kasih sayang antara keduanya yang melebihi kasih sayang di antara sesama kerabat.

Maka (dengan ayat-Nya ini) seakan-akan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya wanita itu tidak akan mau berumah tangga dan rela mening­galkan semua penolong dan orang-orang yang dicintainya, untuk hidup bersama suaminya, kccuali karena dia percaya bahwa hubungannya dengan suaminya lebih kuat dari hubungan manapun, dan hidup bersamanya lebih menenangkan hati daripada kehidupan manapun. Ini adalah perjanjian fitri yang lebih kuat dan lebih kokoh dari perjanjian manapun. Dan yang mengerti makna ini hanyalah manusia yang memiliki rasa kemanusiaan.

Maka siapa saja yang merenungkan keadaan yang ditimbulkan oleh Allah Ta’ala, di antara seorang laki-laki dengan istrinya, maka dia akan mengerti bahwa wanita itu lebih lemah daripada laki-laki, dan ia mau menerima laki-laki (suami) dan menyerahkan dirinya kepadanya, padahal ia tahu bahwa suami dapat saja menghancurkan hak-haknya. Maka apakah yang dijadikan sandaran wanita untuk menerima (suami) dan menyerahkan diri kepadanya ini?

Jaminan apakah yang diperolehnya atasnya dan perjanjian macam apa yang dipercayainya itu?

Apakah yang ada dalam benak wanita kalau ditanyakan kepadanya, ‘Anda akan menjadi istri si Fulan?’ Pertama yang terasa dalam hatinya ketika mendengarkan pertanyaan semacam ini, atau ketika memikirkarnya walaupun tidak ditanya, ialah bahwa dia akan berada di sisi suami dalam keadaan yang lebih utama daripada keadaannya di sisi ayah ibunya.

Dan yang demikian itu tidak lain karena adanya sesuatu yang telah berada di dalam fitrahnya di belakang syahwat, yaitu aqlun Ilahiyyun (pikiran ketuhanan) dan perasaan fitri yang telah meletakkan di dalam diri wanita itu kecenderungan untuk menjalin hubungan khusus yang tidak pernah diperjanjikan sebelumnya, suatu kepercayaan khusus yang tidak dijumpainya pada seorang pun dari keluarga, dan kecintaan dan kerinduan khusus yang tidak dia dapatkan tempatnya selain pada suami.

Maka semua itulah mitsaq ghalizh (perjanjian yang kuat) yang diambil wanita dari laki-laki (suami) sesuai dengan kehendak aturan fitrah, yang dikuatkan dengannya sesuatu yang tidak dapat dikuatkan dengan kata-kata yang disertai janji dan sumpah, dan dengan itu pula si wanita yakin dan percaya bahwa dengan perkawinan itu dia akan menghadapi kebahagiaan yang di belakangnya sudah tidak ada kebahagiaan lagi (yakni tidak ada yang melebihinya) di dalam kehidupan ini, meskipun dia belum melihat siapa gerangan yang akan dia relakan menjadi suaminya dan belum pernah dia dengar perkataannya. Inilah yang telah diajarkan oleh Allah dan diperingatkan- Nya kepada kita –yaitu sudah ditanamkan di dalam jiwa kita yang paling dalam– dengan (kandungan) flrman-Nya, ‘Sesungguhnya dengan perkawinan ini wanita telah mengambil perjanjian yang sangat kuat dari laki-laki. Maka tidak ada harganya orang yang tidak memenuhi perjanjian ini. Dan apakah kedudukan orang semacam ini dilihat dari segi insaniyah (kemanusiaan)?’”

Sesungguhnya perkawinan itu membentuk organisasi kecil, yaitu keluarga yang merupakan benih masyarakat, yang jika benih itu baik maka masyarakat akan mantap dan kuat. Dan organisasi kecil ini diorganisir oleh akad yang disifati oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya, “Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”, dan oleh Rasulullah saw. disifati dengan sabda beliau,“Takutlah kamu sekalian kepada Allah mengenai wanita (istri), karena kamu telah mengambil mereka dengan amanat Allah. ” (HR Muslim)

Dan, akad ini diatur dan ditentukan syarat-syaratnya dan segala yang berkaitan dengannya oleh syariat yang kokoh dan bijak. Kemudian, di antara hal yang menunjukkan pentingnya dan mulianya akad ini ialah bahwa kedudukannya sama saja, baik pada permulaannya, ketika mengakhirinya, maupun pada waktu melakukannya secara sia-sia. kedudukannya hanya satu saja dan tidak main-main. Hal itu demikian jelas berdasarkan dua buah hadits berikut ini:

Dari Fudhalah bin Ubaid bahwa Nabi saw. bersabda,

“Tiga hal yang tidak boleh bermain-mainpadanya, yaitu: talak,nikah, dan memerdekakan budak. ” (HR ath-Thabrani)

Dan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Tiga hal yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh maka bergurau pun dinilai sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh, yaitu: nikah, talak, dan ruju’. ” (HR Abu Daud)

Baiklah kami bawakan perkataan Ibnul Qayyim yangmenunjukkah betapa agungnya akad nikah, ia berkata, “Tujuan ihdad (berkabung) atas suami yang meninggal dunia. Itu ialah untuk mengagungkan akad ini dan untuk menunjukkan pentingnya dan mulianya akad itu, dan bahwa ia di sisi Allah memiliki kedudukan tersendiri. Maka iddah dijadikan haram baginya (untuk kawin dengan orang lain), dan ihdad dimaksudkan untuk menyempurnakan tujuan ini dan untuk mengukuhkannya, dan menambah perhatian terhadapnya, sehingga si istri dijadikan sebagai orang yang lebih utama melakukap ihdad terhadap suaminya, daripada ayahnya, anaknya, saudaranya, dan semua kerabatnya. Dan inilah di antara pengagungan dan pemuliaan terhadap akad ini, serta untuk menegaskan perbedaan antara dia (akad nikah) dengan zina dilihat dari seluruh segi hukumnya. Oleh karena itu, dalam memulai akad ini disyariatkan untuk mengumumkannya, mempersaksikannya, dan memukul rebana, untuk menampakkan perbedaannya dengan per­zinaan. Dan di dalam mengakhirinya disyariatkan iddah dan ihdad yang tidak disyariatkan untuk selainnya.”

sumber: Kebebasan Wanita, jilid 5, Abdul Halim Abu Syuqqah, (GIP, Hlm 99-104)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: