06.02.09

Meniti Membangun Rumah Tangga

Ditulis dalam Pernikahan & Keluarga Muslim pada 3:23 pm oleh Kartino

Ketika usia beranjak dewasa, pernikahan merupakan momen yang dinanti. Ingin segera mengganti status diri. Bosan menjadi seorang lajang. Tiada sanggup lagi hidup dalam kesendirian. Kesendirian menciptakan suasana sepi. Merasa sunyi berada diatas bumi. Ada ruang kosong didalam hati yang harus terisi. Hampa, karena belum menemukan cinta sejati. Cinta yang datang dari seorang kekasih. Kekasih yang berani mengikat janji. Janji dalam ikatan yang suci.

Menunggu, bosan terus menunggu. Penantian yang panjang. Selalu diliputi ketidakpastian. Kapan penantian ini akan berakhir. Hati selalu bimbang. Kepasrahan yang disertai kecemasan. Cemas, mengharap jodoh itu datang. Selalu termenung, dan termenung. Dihinggapi sepi walau ditengah keramaian. Kegelisahan tak juga lepas. Waktu terus berputar. Umur kian menua. Takut jika celaan itu datang. Resah tak kunjung naik pelaminan.

Pernikahan memang bukan perkara yang sepele. Perlu keberanian. Berani menghadapi tantangan. Mental harus kuat. Pesimisme tak boleh menguasai. Optimisme tetap dijaga. Yakin bahwa Allah yang memberi rizki. Siap menanggung beban. Tanggung jawab yang diemban begitu berat. Terjangan badai bisa datang setiap saat. Tidak mengenal waktu dan tempat. Memang sulit dan menakutkan. Namun, bukan berarti tak bisa dihadapi. Semua usaha selalu ada resiko. Kesuksesan dicapai setelah melewati banyak rintangan. Batu yang mengganjal, bukanlah penghalang. Tujuan mulia harus diraih dengan jerih payah. Meraih kemuliaan dengan segera melangsungkan pernikahan.

Merencanakan pernikahan, merupakan tugas perkembangan orang yang beranjak dewasa menurut seorang pakar Psikologi Perkembangan, Havighurst. Ketika memasuki masa dewasa, rencana untuk membangun mahligai rumah tangga harusnya sudah ada ditiap benak kita. Tidak lagi berjuang sendiri. Namun berdua menghadapi arus kehidupan. Bahtera itu dinakhodai suami, didampingi sang istri yang setia berada disisi.

Kehidupan rumah tangga memang berliku. Tantangan kedepan begitu berat. Visi dan misi kehidupan harus jelas. Tameng harus tersedia agar siap menghadapi hantaman yang keras. Perlu tameng yang kuat. Jika tameng itu lemah, terbentur sedikit saja maka seketika akan pecah. Tidak bertahan lama. Pondasi keluarga haruslah kokoh. Semakin kuat pondasi, cobaan alang merintang tak jadi persoalan. Tetap eksis ditengah pergolakan. Komitmen harus dibangun sedari awal. Tabah menghadapi cobaan. Siap merasakan pahit. Tarbiyah tak boleh dilupakan. Karena pondasi itu dibangun dengan pembinaan. Keluarga dibina dengan landasan agama yang kokoh. Hingga aqidah tertancap  kuat. Muamalah pun dihiasi dengan akhlak yang mulia. Tiada dusta yang menjadi kebiasaan. Kejujuran sudah menjadi watak dan tabi’at. Kebahagiaan pun tercipta. Romantisme senantiasa terpelihara. Idaman seluruh keluarga.

Romantisme

Romantisme merupakan bumbu penyedap dalam kehidupan rumah tangga. Mayoritas istri, mendamba romantisme dari suaminya. Angan-angan para istri diperlakukan layaknya seorang putri. Seorang putri yang menanti sang pangeran beraksi. Berharap sang pangeran menjemputnya dengan kereta kencana beralaskan permadani. Bertekuk lutut sambil menyerahkan sekuntum bunga. Bunga yang indah dan semerbak wangi. Disertai pujian dan kata-kata manis nan puitis. Kata-kata cinta mengalir seperti mata air. Hati sang putri pun turut berbunga-bunga. Perasaannya senang, pikirannya terbang melayang.

Bahtera yang Retak

Badai kencang bisa datang menerjang bahtera rumah tangga kapan saja. Jika nakhoda tidak handal, bahtera akan terombang-ambing ditengah lautan. Tak jelas arah dan tujuan. Bahtera terancam karam dihantam karang. Retak, bahtera tak kuat melawan kerasnya hadangan. Tenggelam, sedikit demi sedikit bahtera dimangsa lautan. Bahtera tak terselamatkan. Kini hanyut ke dasar.

Pernikahan akan retak jika kesetiaan tidak lagi terpatri di dalam hati. Pertikaian yang tak kunjung henti. Kebencian begitu mendalam, tertanam di dalam hati. Pertengkaran yang dibumbui amarah dan emosi menghiasi sepanjang hari. Tiada lagi ketentraman di dalam rumah. Suami-istri diliputi lelah. Putus asa, akhirnya memutuskan untuk berpisah. Tak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Ikrar suci yang dulu diucapkan seolah terlupakan. Janji untuk sehidup semati ternyata hanya bualan. Setia, bersama dalam keadaan lapang maupun sempit, itu hanya mimpi. Kini semuanya berubah, keras kepala.

Anak-anak menjadi korban. Perasaan mereka seolah terlupakan. Terlupakan karena pertikaian. Anak-anak hanya mampu menangis. Menangis sendiri tanpa ada yang peduli. Kedua orangtua mereka sibuk dengan urusannya sendiri. Lupa dengan kondisi sang buah hati. Bingung, anak-anak menjadi bingung. Mengapa rumah kini menjadi neraka. Padahal dulu tenang dan tentram seperti surga. Kedamaian di dalam rumah telah hilang. Perpisahan, sesuatu yang belum mereka pahami. Mengapa harus memilih antara dua orang yang sama-sama mereka cintai. Pikiran mereka penuh tanda tanya. Namun penjelasan itu tak juga sanggup dimengerti. Anak-anak itu terlalu lugu. Hati mereka suci. Belum ternoda dengan tinta kelam. Perasaan mereka jujur, berharap ayah-bunda untuk bersatu kembali.

Orang dewasa, hidup mereka penuh ambisi. Menilai segala sesuatu dalam sudut pandang untung-rugi. Apalagi dizaman seperti sekarang ini. Individualis, itulah keadaannya. Manusia semakin individualis. Tiada lagi kepedulian terhadap sesama. Tak lagi peduli orang lain yang kesusahan selama ia masih hidup dalam kesenangan. Namun protes jika haknya sedikit saja terlupakan. Berteriak menyebut ketidakadilan.  Sulit untuk mengalah. Tidak mau merasakan susah. Selalu saja menuntut. Demi kepuasan pribadi. Rela mengorbankan segalanya. Tanpa memperhitungkan dampak buruk yang mungkin ditimbulkan. Lupa dengan kaidah maslahat dan mafsadah. Semuanya demi egoisme diri. Lupa, tak sadar jika justru anaknya yang akan terkena imbasnya.

Perceraian menyebabkan jiwa anak labil. Ia ingin memberontak pada keadaan. Namun tangannya terlalu lemah untuk melakukan perlawanan. Mereka hanya sanggup menerima dengan terpaksa. Terpaksa pada keadaan yang diciptakan kedua orangtuanya. Kadang menjadi berat harus meninggalkan salah satunya. Kasih sayang itu tak lagi utuh ia terima. Pecah, seiring terpecahnya hubungan orangtuanya

Merakit Kembali

Pada masa awal pernikahan, hidup sungguh terasa amat indah. Tiada hari tanpa senyum dan canda tawa. Suasana selalu saja romantis. Cinta dan kasih sayang bertaburan dimana-mana. Dunia seolah hanya milik berdua. Yang ada hanya cinta dan cinta. Jiwa merasakan kesejukan. Kaki sulit beranjak dari rumah. Selalu ingin pulang, tak mampu lama berpisah. Rindu untuk segera bermesraan. Memori tentang masa lalu terungkap kembali. Kenangan-kenangan yang tak mungkin terlupakan. Masa-masa sulit dilalui berdua. Lapar dan dahaga ditanggung bersama. Rela berbagi, makan sepiring berdua. Berbagi tegukan dalam satu gelas. Tak memelas, tidur tanpa alas. Kesulitan membuat hati semakin erat. Dua hati kini telah menyatu. Menyatu dalam satu simpul ikatan. Ikatan itu begitu kuat.

Pria dan wanita memang berbeda. Fisik mereka berbeda, menyebabkan fungsi, peran, dan karakter mereka pun berbeda. Pria berwatak keras, sedangkan wanita berwatak halus. Tidak ada kelebihan mutlak disalah satu pihak. Keduanya saling mengisi. Yang penting, masing-masing memahami perannya dan bertanggung jawab atas peran yang diberikan. Perbedaan bukanlah suatu yang tercela. Justru perbedaan membuat kita belajar saling memahami. Paham akan karakter masing-masing. Menerima kelebihannya dengan senang hati, tanpa disusupi rasa dengki. Bersabar atas kekurangan yang ada dalam individu masing-masing. Berusaha untuk mengerti bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna.

Cemburu harus tertanam pada diri suami-istri. Cemburu karena melihat pasangan tidak patuh pada ajaran. Marah karena tak mau lepas dari maksiat yang senantiasa menggoda. Cemburu merupakan tanda cinta. Tak tega si dia terkena celaka. Apalagi jika kelak terkena siksa. Namun cemburu menjadi masalah jika berada diluar kendali. Cemburu yang terlalu tinggi. Tak mampu mengendalikan emosi. Hingga kepercayaan tak ada lagi. Kecurigaan mengubah bahagia menjadi petaka.

Kesadaran akan peran diri, komitmen, dan tanggung jawab harus bersatu padu dalam ikatan yang utuh. Komunikasi pun harus terjalin dengan baik. Interaksi tidak boleh dilupakan. Kasih sayang jangan sampai hilang, harus selalu terpelihara. Kesetiaan pun tetap dijaga. Jika hilang, maka akan timbul benih-benih penghianatan. Kesetiaan mahal harganya. Apalagi pada era ini, dimana sebagian orang bangga dengan kemunafikan. Perselingkuhan begitu dipuja. Banyak tertulis dalam bait-bait syair. Orang ketiga dianggap biasa. Propaganda yang disebarluaskan. Terlihat jelas dalam adegan sandiwara televisi.

Pernikahan yang bahagia bukan sekedar impian. Mimpi-mimpi itu bisa terealisasi ke dalam realitas. Memang perlu usaha dan kerja keras. Disertai pula dengan kerja cerdas. Semua orang pasti berharap agar perjalanan hidup keluarganya dinaungi kedamaian, cinta, dan kasih sayang. Maka, jangan pernah putus usaha dan doa.

“Ya Allah,Sesungguhnya aku minta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu dengan kemahakuasaan-Mu.Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung,sesungguhnya Engkau Maha Kuasa,sedang aku tidak kuasa,Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahui,dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang gaib.Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini(Membangun rumah tangga yang dilandasi ketakwaan pada Allah dan ibadah serta kebaikan dan keberkahan didalamnya yang hanya kepada-Mu saja kami berharap) lwebih baik dalam agamaku dan akibatnya terhadap diriku,sukseskanlah untukku,mudahkan jalannya,kemudian berilah berkah.Akan tetapi jika engkau mengetahui bahwa persoalan ini tidak baik bagiku dalam agama dan kesudahan bagiku,maka singkirkanlah dariku dan jauhkanlah aku daripadanya,takdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada kemudian berikanlah kerelaaan-Mu padaku”.

Bismillahirahmanirahim…..

& Komentar »

  1. lazissyamsululum berkata,

    Subhanallah… Bagus sekali

  2. Qie berkata,

    Subhanallah…

    kunjungan pertama… salam kenal juga.. gada data2 authornya nih…^^


Tinggalkan sebuah Komentar