05.30.08
Ditulis dalam Pernikahan & Keluarga Muslim pada 7:59 am oleh Kartino
Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara pernikahan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman para Salafush Shalih, di antaranya adalah:
1. Khitbah (Peminangan) Seorang laki-laki muslim yang akan menikahi seorang muslimah, hendaklah ia meminang terlebih dahulu karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang laki-laki muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya.” [1] Disunnahkan melihat wajah wanita yang akan dipinang dan boleh melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahi wanita itu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!” [2] Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu pernah meminang seorang wanita, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua.” [3] Read more…..
Permalink
Ditulis dalam Pernikahan & Keluarga Muslim pada 7:32 am oleh Kartino
Oleh: Mochamad Bugi
Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga salah satu bentuk kesempurnaan penciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satunya cinta seorang lelaki kepada seorang wanita, demikian juga sebaliknya.
Rasa cinta bisa menjadi anugerah jika luapkan sesuai dengan bingkai nilai-nilai ilahiyah. Namun, perasaan cinta dapat membawa manusia ke jurang kenistaan bila diumbar demi kesenangan semata dan dikendalikan nafsu liar.
Islam sebagai syariat yang sempurna, memberi koridor bagi penyaluran fitrah ini. Apalagi cinta yang kuat adalah salah satu energi yang bisa melanggengkan hubungan seorang pria dan wanita dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Karena itu, seorang pria shalih tidak asal dapat dalam memilih wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya.
Ada banyak faktor yang bisa menjadi sebab munculnya rasa cinta seorang pria kepada wanita untuk diperistri. Setidak-tidaknya seperti di bawah ini. Read more…..
Permalink
Ditulis dalam Pernikahan & Keluarga Muslim pada 7:21 am oleh Kartino
Ta’aruf sering diartikan ‘perkenalan’, kalau dihubungkan dengan
pernikahan maka ta’aruf adalah proses saling mengenal antara calon
laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan. Karena
itu perbincangan dalam ta’aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum
melangkah ke proses berikutnya. Pada tahapan ini setiap calon pasangan
dapat saling mengukur diri, cocok gak ya dengan dirinya. Lalu, apa aja
sih yang mesti diungkapkan kepada sang calon saat ta’aruf?
1. Keadaan Keluarga. Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga
masing-masing, berapa jumlah sodara, anak keberapa, gimana tingkat
pendidikan, pekerjaan, dll. Bukan apa-apa, siapa tahu dapat calon suami
yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Jepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang “Abi, boljug tuh ‘kaya’ ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi langsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!” Lho?
2. Harapan dan Prinsip Hidup. Warna kehidupan kelak ditentukan dengan
visi misi suatu keluarga lho, terutama sang suami karena ia adalah
qowwan dalam suatu keluarga. Sebagai pemimpin ia laksana nahkoda sebuah
bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adalah
kemahirannya dalam memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan
kudu tau harapan dan prinsip hidup masing-masing. Misalnya nih, “Jika
kau menjadi istriku nanti, harapanku semoga kita semakin dekat kepada
Allah” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan
keluarga sakinah, rahmah, mawaddah.” Kalo harapan dan janjinya seperti
ini, kudu’ diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikan Allah SWT dan
para malaikat. Jadi kalo suatu saat dia gak nepatin janji, tinggal
didoakan, “Ya Allah… suamiku omdo nih, janjinya gak ditepatin, coba
deh sekali-kali dianya…,” hush…! Gak boleh doakan suami yang gak
baik lho, siapa tahu ia-nya khilaf kan?
Read More….
Permalink